Sabtu, 03 Agustus 2013
Kejenuhan Segar
Sebentar lagi, 16 Agustus 2013, tepat 609 hari hubungan gua dengan dia, ya sebut saja “manyun” (gua juga punya panggilan sayang ke cewe gua, walaupun gua bukan anak alay yang ber ayah bunda-an).
Kenapa manyun? Jawabannya seperti kata Jokowi, “simple”. Karena doi suka menggunakan emot dalam setiap percakapan kami via BBM atau SMS. Tidak peduli dalam kondisi dan keadaan apapun, tanpa terkecuali sesaat setelah kami jalan berdua, emot demikian selalu menghiasi setiap tulisannya. Entah emot tersebut sudah terautotext permanen di handphone nya.
Cewe gua ini sepertinya adalah salah satu dalam kategori limited edition (bahasa lainnya adalah unik, bahasa lainnya lagi adalah aneh). Kenapa gua bisa bilang doi limited edition alias unik a.k.a aneh? Sekali lagi sama kaya apa kata Jokowi, “simple”. Saking simple nya gua ga bisa ngungkapin dalam bentuk tulisan.
Doi punya hobi makan bakso, pentol kuah, dan segala macam merk mie instan. Ketiga menu yang gua sebut tadi yang selalu menghiasi setiap kami makan berdua diluar. Gua sih senang ngeliat manyun kalo lagi makan menu-menu di atas, selalu lahap, kuahnya pun tak pernah tersisa. Keadaannya sangat berlawanan kalo makan menu lain, jarang bengat doi makan selahap memakan menu favoritnya.
Kalian semua mungkin ga pernah ngalamin apa yang gua alamin sama cewe gua ini, apalagi waktu nonton bioskop. Doi emang sudah jadi mahasiswi tahun ini, tapi selera film nya sangat berpunggungan dengan selera gua. Dia masih suka nonton film ber genre adventure/petualangan, lebih spesifiknya adalah film berbau dongeng.
Gua merasa paling berdosa tiap ngajak doi nonton, contohnya waktu nonton The Raid. Doi nanya The Raid itu film apaan. Kalo gua bilang yang sejujurnya, ga bakal jadi kami nonton. Gua bilang aja The Raid itu sejenis Harry Potter. Langsung aja tuh cewe gua antusias mau nonton, Karena doi suka banget sama Harry Potter.
Alhasil, sepanjang durasi 1,5 jam film berlangsung, tangan gua keram akibat dipukul-pukul si doi karena ga terima gua tipu akan kebenaran film The Raid.
Satu yang ga pernah gua ngerti sama sikap cewe gua ini, mungkin sikap ini juga tertanam pada semua cewe yang hidup di era cowo-cowo bercelana terang dan ibu-ibu berlegging macan, yaitu rentan galau. Pengen banget gua nanya sama semua cowo, apa sih ruginya kalo satu malam aja ga telponan sama cewe lo. Bagi cewe, ga telponan satu malam aja itu ibarat Hittler hidup kembali. Padahal kan setau gua telponan lama-lama itu kurang baik buat kesehatan. Tapi ya, demi tuntutan hubungan, hal itu wajib dijalani semua cowo.
Tapi dari semua keanehan dan kelimited edition-an cewe gua ini, doi tetap cewe yang ngebuat gua paling merasa nyaman dengan semua kejenuhan segarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar