Minggu, 19 Desember 2010

Resensi - Starbucks Coffee, Suatu Senja


Starbucks Coffee, Suatu Senja tak lain adalah sebuah kumpulan cerpen karya A.M. Lilik Agung yang tersebar di berbagai media massa. Cerpen ini bercerita tentang kehidupan metropolitan kalangan atas yang berpusat di sebuah kedai kopi bernama Starbucks Coffee.

A.M. Lilik Agung, public lebih mengenalnya sebagai trainer korporasi dan penulis bisnis yang produktif. Bukti dari produktivitas ini ditandai dengan telah ditulisnya 8 buku bisnis, diantaranya adalah Human Capital Competencies, Spiritual Leadership, Cara Cepat Menjadi Supervisor Unggul dan Ketika Nurani Ikut Berbisnis.

Para pembaca pasti banyak yang bertanya. Mengapa harus Starbucks Coffee ? Sebagai orang yang menggeluti dunia bisnis, A.M. Lilik Agung mendapat fenomena yang luar biasa dari kedai kopi ini. Selain memiliki nilai ekonomi luar biasa dan buka cabang di lima penjuru benua, Starbucks Coffee mampu membentuk gaya hidup global. Gaya hidup manusia urban dengan secangkir kopi, setangkup roti dan sejuta kepentingan dari orang-orang yang berkunjung.

Kumpulan cerpen ini memuat15 cerita, yaitu :
  1. Starbucks Coffee, Suatu Senja (SC)
  2. Sang Penari (SP)
  3. Naomi Pergi (NP)
  4. Sepenggal Malam (SM)
  5. Sunyi di Metropolitan (SdM)
  6. Memeluk Paula (MP)
  7. Valentine Day (VD)
  8. Metropolitan Bermain (MB)
  9. Kuta Nan Senyap (KNS)
  10. Menunggu Gita (MG)
  11. Putu Menari (PM)
  12. Poros Jakarta-Yogya (JY)
  13. Layang-Layang Ali(LA)
  14. Yogya Berwarna (YB)
  15. Dunia Esther (DE)

Cerpen pertama dalam buku ini adalah Starbucks Coffee, Suatu Senja, judul cerpen yang sama dengan judul bukunya. Cerpen ini menggambarkan tentang kehidupan tokoh aku yang sangat sibuk dalam dunia persaingan bursa efek Jakarta. Disini diceritakan pertemuan aku dengan seorang wanita bernama Anna Karenina Wijayanti, seorang wanita kelas atas yang juga bergelut dalam dunia saham. Pertemuan mereka terjadi di Starbucks Coffe yang berujung dengan obrolan tentang saham. Dalam obrolan mereka nampak jelas bahwa pengarang mencoba mengeluarkan kalimat-kalimat yang erat hubungannya dengan dunia bisnis.

Selain dalam cerpen SC, kalimat-kalimat yang erat hubungannya dengan dunia bisnis juga ditemukan dalam cerpen SP. Cerpen ini hampir mirip dengan SC, yaitu terjadi pertemuan antara aku dengan seorang wanita. Tapi bedanya, disini aku tidak sempat mengetahui nama wanita itu dan tidak tahu apa pekerjaannya. Aku hanya mengira bahwa wanita itu merupakan seorang pebisnis sama seperti dirinya. Tapi diakhir cerita semua itu terungkap. Wanita itu ternyata adalah seorang penari malam di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta.

Pengarang mencoba memberikan hal yang berbeda dalam cerpan NP. Disini tokoh aku yang digambarkan bukan sebagai seorang pebisnis kelas atas, tapi dalam cerpen NP ini tokoh aku, Agung adalah seorang wartawan. Disini juga digambarkan dengan jelas tokoh mahasiswi cantik yang berkarakter, inspiratif dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat yang dianggapnya benar, walaupun itu dapat membahayakan dirinya.

Gadis itu bernama Naomi. Agung bertemu Naomi ketika di depan bundaran HI. Pada saat itu Naomi bersama teman-teman mahasiswanya sedang berunjuk rasa. Disana Agung tertarik pada Naomi karena keberaniannya. Dan kemudian Agung mengajak Naomi untuk diwawancarai di Starbucks Coffee. Namun pada akhir cerita Naomi harus pergi dari negeri ini. Karena mendapat ancaman dari tentara-tentara. Dia pun terpaksa meninggalkan negeri yang dicintai ini untuk pindah ke Perancis.

Pengarang sepertinya berhasil menggambarkan tokoh Naomi dalam cerita ini. Karena tokoh inilah cerpen ini menjadi salah satu daya tarik dalam buku Starbucks Coffee ini.

Dalam cerpen selanjutnya, VD, pengarang tidak lagi mengangkat cerita persaingan bisnis ataupun dunia politik. Tapi kali ini pengarang mencoba memberikan sentuhan drama percintaan antara tokoh aku dan seorang wanita bernama Evi.

Dalam cerpen ini, pengarang memberikan efek dramatis yang sangat kental seperti yang sering terjadi dalam sinetron. Yaitu tentang ditentangnya hubungan aku dan Evi oleh orangtua Evi. Hal ini berdasarkan karena status sosial yang berbeda. Aku yang saat itu hanya seorang karyawan di salah satu perbankan dianggap tidak pantas untuk mendampingi Evi yang anak seorang terpandang di negeri ini.

Unsur drama semakin jelas saat aku dan Evi kembali bertemu setelah lama terpisah karena Evi melanjutkan kuliahnya di Amerika. Mereka bertemu bertepatan dengan hari valentine.

Terakhir, saya tertarik pada cerita JY. Dalam cerpen ini diceritakan tentang cara gila seorang wanita untuk menyelamatkan tokoh aku. Disini aku adalah seorang penentang rezim buruk di negeri ini.

Cerita ini berawal ketika aku berlari karena dikejar oleh aparat akibat dia melakukan demonstrasi, demonstrasi untuk menjatuhkan penguasa. Ditengah pelariannya, dia melihat seorang wanita tanpa busana disalah satu kos. Ya, tanpa busana, wanita itu hanya memakai BH.

Aku yang heran melihat pemandangan ini dibuat tambah heran ketika wanita itu menyuruhnya untuk melepaskan baju. Dan akhirnya mereka berdua bergulingan dikamar tidur wanita tadi. Sesaat kemudian aparat menerobos masuk ke kamar wanita itu. Dengan sedikit bicara, wanita itu berhasil membuat aparat itu pergi.

Setelah lumayan lama bingung dibuatnya, akhirnya aku mengerti bahwa hal yang dilakukan wanita itu hanya untuk menyelamatkan aku dari kejaran aparat.

Dan, ini hanya pendapat (boleh jadi sepihak dan subjektif) dari seorang pembaca. Dan saya berusaha sebisa mungkin menghindar dari pretensi, kalau ada. Karena itu, selanjutnya saya serahkan kepada para pembaca untuk menikmati ke 15 cerpen dalam buku ini. Karena dengan membaca cerpen ini kita dapat merasakan benar suasana realita kehidupan di sekitar kita yang tidak hanya sering kita lihat dan dengar, tetapi bahkan mungkin kita alami.

1 komentar: