Senin, 20 Desember 2010

Luka dan Harapan Erkhant (true story)

Think again, mencoba mengingat kembali kejadian beberapa minggu lalu. Khususnya tentang seseorang yang tanpa sengaja masuk ke hidupku. Mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Ya, walaupun tidak terlalu lama, cuma sekitar seminggu. Namun seminggu yang takkan terlupakan olehku. Bukan hanya karena bahagianya, tapi juga karena harapan dan lukanya.

Berawal dari awal yang aneh, dia mengenalku saat melihatku sedang bolak-balik memutari pekomplekan rumahnya. Saat itu aku sedang mencari sesuatu yang sampai saat ini belum kutemukan. Kemudian dia hadir di akun facebook ku. Ya, disitulah ku mulai mengenal balik dia. Dengan gayanya yang cuek dan apa adanya memberikan daya tarik tersendiri bagiku untuk mengenalnya lebih jauh.

Minggu, 21 Nopember, hari dimana pertama kalinya ku bertemu langsung dengannya. Kesan yang baik di awal. Masih tanpa perasaan sama sekali, kami hanya berjalan berdua dengan anggapan teman biasa. Dia genggam erat tanganku, aku pun begitu. Namun masih tanpa perasaan apapun.

Hari berjalan seperti biasa. Besoknya ku antar dia sehabis pulang sekolah, karena kebetulan kami satu SMA, dia adik kelasku. Begitu seterusnya berjalan, tak satu haripun kami tidak bertemu. Disitulah mulai muncul perasaan yang beda dalam hatiku. Entah perasaan apa, tapi ku kira ini baru sekedar suka.

Jum`at malam, disinilah jawabnya. Dia mengundangku kerumahnya. Untuk apa ? Bukan untuk apa-apa, hanya untuk menemaninya dirumah.

Selama dirumahnya, ku merasakan hati ini semakin aneh. Ditambah lagi dengan dia memeluk erat aku. Disana kumulai yakin, aku sayang dia. Tak ada niat macam-macam sedikitpun padanya pada waktu itu. Padahal, aku melakukan apapun tak akan ada orang yang tau, hanya aku dan dia. Mungkin itu karena ku sungguh mulai menyayanginya.

Rasa sayang yang mulai ku alami pada saat itu sepertinya mendapat tanggapan sama dari dirinya. Ku masih ingat betul kata-katanya, ”Kalo kamu sayang aku, kenapa gak macarin aku aja”, dengan cuek dan sedikit tawa ringan dia katakan itu padaku. Hati ini sangat gembira, sepertinya rasaku disambut baik olehnya. Tinggal tunggu waktu yang tepat pikirku untuk ungkapkan semua padanya.

Esok harinya, kuhabiskan seharian penuh bersamanya. Dari jalan, makan, karoke, sampai dia menemaniku main futsal.

Sekitar pukul 7 malam, aku mengantar dia pulang. Diiringi hujan gerimis yang membasahi tubuh kami. Sekaranglah ku pikir waktu yang tepat. Dengan sedikit gugup, ku utarakan semua perasaanku padanya.

Mendengar semuanya, dia hanya tertawa, dan sedikit bercanda. “Boleh juga” katanya. Tapi ku tau itu tidak serius. Namun sudahlah, mungkin dia butuh waktu untuk menjawabnya, pikirku.

Satu hari, dua hari, hingga tiga hari ku tunggu jawaban darinya. Tapi di hari ketiga ku merasa ada yang lain dari dirinya. Perhatian dan kata-kata sayangnya beberapa hari yang lalu tidak lagi terdengar. Bahkan dia cuek. Ada apa dengan dia, kenapa tiba-tiba berubah ? Aku bingung, tak karuan jadinya hati ini.

Dia bilang ada masalah yang mebuat dia seperti ini, namun tak diceritakannya padaku. Semakin bingung ku dibuatnya.

Dan waktupun menjawab semuanya, tanpa sengaja kulihat status hubungan di facebooknya. Ya, dia telah berpacaran. Tak percaya melihat semua ini, kutanyakan langsung padanya. Dan ternyata benar. Dia berpacaran dengan lelaki lain.

”Maafkan aku hen, keadaan yang memaksa seperti ini.” Itu yang diucapknnya melaui SMS.

Namun maaf itu tak cukup sayang. Tak cukup mengobati rasa kecewa ku padamu.

Dari saat itulah ku tidak lagi melihat dirinya. Mungkin baik bagiku seperti ini, karena tidak memperkeruh suasana hatiku.

Yang masih ku tanyakan sampai saat ini, kenapa dia lakukan semua ini padaku ? Apa tujuannya memberi harapan padaku ? Apa arti kebersamaan kami seminggu ini ? Apa arti cemburunya waktu itu ?

Apa semuanya hanya untuk mempermainkan aku. Entahlah, hanya dia yang tau jawabnya.

Berbahagialah kau dengan hidupmu, Erkhant !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar