Selasa, 30 September 2014
Ceritanya Mahasiswa, yang Bisa Melakukan Apa Saja
25 Januari 2014, tanggal itu menjadi hari besar bagi gua, dan mungkin juga bagi teman-teman satu angkatan gua di kampus, lebih tepatnya dua angkatan. Disini gua mau ngemulainya dari sekitar satu tahun yang lalu, selain buat lebih memperjelas tulisan ini juga buat ngebanyakin halamannya.
Oke. Alkisah, semua tekanan, mimpi buruk, penyita liburan, penghilang ketenangan, semua itu menghasilkan pengalaman berharga dan Alhamdulillah, hasil yang memuaskan. Diawali sekitar bulan Maret 2013, saat gua memutuskan untuk ikut wawancara penerimaan anggota baru Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan di kampus gua. Disitu setiap “caleg” dipersilahkan memilih dua pilihan untuk masuk ke divisi yang diinginkan, dan disitu gua memilih divisi 5 (seni dan olahraga) dan divisi 1 (kerohanian). Kenapa gua memilih kedua divisi tersebut? Jawaban jayus nya adalah karena sesuai dengan hobi gua dibidang futsal (divisi 5) dan karena gua mau meramaikan acara-acara keagaman di kampus (divisi 1).
Satu kalimat terakhir di paragraph tadi merupakan jawaban “jayus”. Masih ada jawaban jujur kenapa gua memilih dua divisi tadi. Jawabannya simple aja, “cari aman”. Kenapakah demikian, karena menurut gua divisi tersebut adalah divisi yang paling aman, selain proker (program kerja) nya yang tidak berat, juga bisa sambil rame-ramean. Karena gua orangnya susah banget buat serius. Sesusah Nobita kalo hidup tanpa doraemon.
Setelah melalui wawancara yang tingkat ketegangannya 15%, ini sama dengan tingkat ketegangan lo kalo lupa ngesave waktu main harvest moon. Tanpa gua duga, ga tau gua mimpi apa tadi malam, yang jelas sih gua ga mimpi basah, gua masuk divisi 2, divisi yang paling dihindari mahasiswa-mahasiswa yang masih mau hidup normal sebagai mahasiswa. Sedikit gua beri penjelasan kenapa divisi 2 menjadi sangat angker, bukan angker yang jadi sponsor jersey Arema, tapi ini angker yang bener-bener ngeri.
Divisi 2, merupakan divisi dengan motto Organisasi dan Kepemimpinan. Dari namanya aja gua ga ngerti itu apaan, namun dari bisik-bisik tetangga yang masuk ke gendang telinga gua, proker-proker di divisi 2 ini sangatlah tidak mahasiswawi. Proker terbesar dari divisi ini adalah Seminar Nasional, lo semua tau kan yang namanya seminar, dipenuhi dengan formalitas tingkat Sea Games, dan tentunya ini memerlukan kepanitian yang minimal sekelas atlet taraf Asean.
Tapi mau apa lagi, mau dikata apa lagi, bubur telah menjadi nasi lagi, gua harus menerima dengan lapang dada, menyambut dengan tangan terbuka sembari berdoa agar tidak mendapatkan proker seminar nasional. Tapi koordinator gua berkehendak lain, alhasil proker seminar nasional itu jatuh tepat ke kedua telapak tangan gua. Yap, gua resmi jadi ketua seminar nasional, yang kali ini berubah menjadi Talkshow. Rusak lah niat gua sebelumnya, mau masuk Hima hanya untuk seru-seruan ngurusin event olahraga, latihan futsal bareng sama ngadain liga futsal, malah gua harus siap-siap memutar otak setara camera 360 buat ngejalanin ini acara dengan baik.
Kala itu, gua ngerasa kena karma. Gua yang dulunya begitu gak doyan rapat (gak doyan bukan berarti benci), kali ini sebagai ketua, mau ga mau gua yang harus ngajakin 70 orang lainnya buat rapat. Kenapa gua gak doyan rapat? Semua itu tentu ada alasannya, dan dari sekian banyak alasan itu gua rangkum dalam 2 poin, yakni:
1. Rapat itu sodaraan sama ribet. Gimana gak ribet, pertama rapat perlu ruangan, apalagi rapat besar, tentunya perlu ruangan besar. Rapat perlu waktu dan masih banyak alasan kedua ketiga dan seterusnya yang mewakili kenapa rapat itu ribet
2. Dalam rapat itu palingan yang ngomong cuma dari tim inti, koordinator tiap seksi, dan suara hati semua penghuni ruangan yang menyerukan untuk segeralah rapat itu berakhir. Jadi kesimpulannya, jarang ada rapat yang tingkat keefektifitasannya lebih dari 50%
Singkat cerita, setelah menghadapi semua rintangan yang berbentuk proposal, audiensi ke perusahaan dan instansi, menghadapi anggota yang kalo disuruh kerja susahnya kaya John Chena ngalahin The Rock, membuang hampir 35% momen tidur siang, mengurangi 61% tingkat mimpi indah, dan tentunya harus ngerasain karma yang gua bilang diatas, FINALLY, HAMDALAH, BARAKALLAH, proker yang awalnya kaya ngebalik gunung tangkuban perahu supaya ga lagi telungkup, berhasil terlaksana dan berjalan dengan lancer. Dengan tema “Waste Less Green Living More, bertempat di Q Mall Banjarbaru, Sabtu 25 Januari, semua jerih payah kami, mahasiswa teknik lingkungan Unlam angkatan 2011 dan 2012 terbayar lunas.
Good job buat kita seluruh panitia yang sudah ngorbanin hidup normalnya sebagai mahasiswa selama kurang lebih 5 bulan. Percaya gak ada yang gak bisa kita lakuin selama kita berstatus mahasiswa, karena itu sebabnya bung Karno perlu pemuda, bukan orang-orang tua.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar