Kamis, 27 November 2014

Semoga Puitis...

Seperti matahari yang memutuskan untuk terbit
Dia tau bahwa butuh 12 jam untuk bisa kembali terbenam
Seperti jarum jam yang selalu berdetak ke kanan
Dan mustahil baginya untuk berdetak ke arah berlawanan
Layaknya aku, dan kamu
Yang pada masanya pernah menjadi Kita
Masa dimana ruang gerak interaksi ke dunia luar masih terbatas
Masa dimana ring back tone masih sering memanjakan telinga
Masa dimana harga BBm tidak menjadi masalah
Maka biarkanlah...
Biarkan semua masa itu berada pada tempatnya
Tanpa harus berharap, apalagi untuk memaksa
Maka biarkanlah...
Matahari dan jarum jam melaksanakan kodratnya
Meski aku, dan mungkin juga kamu tidak mengehendaki kodrat itu
Dan setelah ini
Tanpa berharap apalagi memaksa akan masa itu untuk waktu sekarang
Tapi berharap masa itu untuk waktu dan kehidupan yang lain

Selasa, 30 September 2014

Ceritanya Mahasiswa, yang Bisa Melakukan Apa Saja

25 Januari 2014, tanggal itu menjadi hari besar bagi gua, dan mungkin juga bagi teman-teman satu angkatan gua di kampus, lebih tepatnya dua angkatan. Disini gua mau ngemulainya dari sekitar satu tahun yang lalu, selain buat lebih memperjelas tulisan ini juga buat ngebanyakin halamannya.
Oke. Alkisah, semua tekanan, mimpi buruk, penyita liburan, penghilang ketenangan, semua itu menghasilkan pengalaman berharga dan Alhamdulillah, hasil yang memuaskan. Diawali sekitar bulan Maret 2013, saat gua memutuskan untuk ikut wawancara penerimaan anggota baru Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan di kampus gua. Disitu setiap “caleg” dipersilahkan memilih dua pilihan untuk masuk ke divisi yang diinginkan, dan disitu gua memilih divisi 5 (seni dan olahraga) dan divisi 1 (kerohanian). Kenapa gua memilih kedua divisi tersebut? Jawaban jayus nya adalah karena sesuai dengan hobi gua dibidang futsal (divisi 5) dan karena gua mau meramaikan acara-acara keagaman di kampus (divisi 1).
Satu kalimat terakhir di paragraph tadi merupakan jawaban “jayus”. Masih ada jawaban jujur kenapa gua memilih dua divisi tadi. Jawabannya simple aja, “cari aman”. Kenapakah demikian, karena menurut gua divisi tersebut adalah divisi yang paling aman, selain proker (program kerja) nya yang tidak berat, juga bisa sambil rame-ramean. Karena gua orangnya susah banget buat serius. Sesusah Nobita kalo hidup tanpa doraemon.
Setelah melalui wawancara yang tingkat ketegangannya 15%, ini sama dengan tingkat ketegangan lo kalo lupa ngesave waktu main harvest moon. Tanpa gua duga, ga tau gua mimpi apa tadi malam, yang jelas sih gua ga mimpi basah, gua masuk divisi 2, divisi yang paling dihindari mahasiswa-mahasiswa yang masih mau hidup normal sebagai mahasiswa. Sedikit gua beri penjelasan kenapa divisi 2 menjadi sangat angker, bukan angker yang jadi sponsor jersey Arema, tapi ini angker yang bener-bener ngeri.
Divisi 2, merupakan divisi dengan motto Organisasi dan Kepemimpinan. Dari namanya aja gua ga ngerti itu apaan, namun dari bisik-bisik tetangga yang masuk ke gendang telinga gua, proker-proker di divisi 2 ini sangatlah tidak mahasiswawi. Proker terbesar dari divisi ini adalah Seminar Nasional, lo semua tau kan yang namanya seminar, dipenuhi dengan formalitas tingkat Sea Games, dan tentunya ini memerlukan kepanitian yang minimal sekelas atlet taraf Asean.
Tapi mau apa lagi, mau dikata apa lagi, bubur telah menjadi nasi lagi, gua harus menerima dengan lapang dada, menyambut dengan tangan terbuka sembari berdoa agar tidak mendapatkan proker seminar nasional. Tapi koordinator gua berkehendak lain, alhasil proker seminar nasional itu jatuh tepat ke kedua telapak tangan gua. Yap, gua resmi jadi ketua seminar nasional, yang kali ini berubah menjadi Talkshow. Rusak lah niat gua sebelumnya, mau masuk Hima hanya untuk seru-seruan ngurusin event olahraga, latihan futsal bareng sama ngadain liga futsal, malah gua harus siap-siap memutar otak setara camera 360 buat ngejalanin ini acara dengan baik.
Kala itu, gua ngerasa kena karma. Gua yang dulunya begitu gak doyan rapat (gak doyan bukan berarti benci), kali ini sebagai ketua, mau ga mau gua yang harus ngajakin 70 orang lainnya buat rapat. Kenapa gua gak doyan rapat? Semua itu tentu ada alasannya, dan dari sekian banyak alasan itu gua rangkum dalam 2 poin, yakni:
1. Rapat itu sodaraan sama ribet. Gimana gak ribet, pertama rapat perlu ruangan, apalagi rapat besar, tentunya perlu ruangan besar. Rapat perlu waktu dan masih banyak alasan kedua ketiga dan seterusnya yang mewakili kenapa rapat itu ribet
2. Dalam rapat itu palingan yang ngomong cuma dari tim inti, koordinator tiap seksi, dan suara hati semua penghuni ruangan yang menyerukan untuk segeralah rapat itu berakhir. Jadi kesimpulannya, jarang ada rapat yang tingkat keefektifitasannya lebih dari 50%
Singkat cerita, setelah menghadapi semua rintangan yang berbentuk proposal, audiensi ke perusahaan dan instansi, menghadapi anggota yang kalo disuruh kerja susahnya kaya John Chena ngalahin The Rock, membuang hampir 35% momen tidur siang, mengurangi 61% tingkat mimpi indah, dan tentunya harus ngerasain karma yang gua bilang diatas, FINALLY, HAMDALAH, BARAKALLAH, proker yang awalnya kaya ngebalik gunung tangkuban perahu supaya ga lagi telungkup, berhasil terlaksana dan berjalan dengan lancer. Dengan tema “Waste Less Green Living More, bertempat di Q Mall Banjarbaru, Sabtu 25 Januari, semua jerih payah kami, mahasiswa teknik lingkungan Unlam angkatan 2011 dan 2012 terbayar lunas. Good job buat kita seluruh panitia yang sudah ngorbanin hidup normalnya sebagai mahasiswa selama kurang lebih 5 bulan. Percaya gak ada yang gak bisa kita lakuin selama kita berstatus mahasiswa, karena itu sebabnya bung Karno perlu pemuda, bukan orang-orang tua.

Sabtu, 14 Juni 2014

Masa Lalu Memang Harus Ada

Masa lalu, merupakan sesuatu yang pasti dimiliki setiap orang, tidak peduli sehebat apa orang itu sekarang, sebahagia apa mereka sekarang, dan sesukses apa dia sekarang. Semua pasti memliki keadaan dimana saat-saat itu hanya bisa diingat, dikenang, dan dirasakan, tanpa bisa mengulanginya.
Entah kenapa, masa lalu sering diidentikkan dengan keterpurukan, kekalahan, penyesalan, dan sakit hati. Hal-hal yang seperti itulah yang bagi sebagian orang membuat mereka membenci masa lalu. Keterpurukan dan segala penyesalan yang berujung menyakitkan hati, hal yang memang tidak sepatutnya diingat, dikenang bahkan untuk dirasakan kembali. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa terkadang kita mengenang masa lalu dan bisa merasakannya kembali, bahkan masa yang kita benci sekalipun, dan bukan hal yang tidak mungkin, masa itu bisa menjadi indah. Dan itu yang gua alami saat menulis tulisan ini. Satu masa, yang memang sudah berkali-kali gua coba untuk tidak mengingatnya, tapi terus-menerus hadir diingatan layaknya serial film Spiderman yang selalu diulang-ulang di Tv.
Ada perbedaan dari cara gua merasakan masa lalu ini. Jika di flashback sekitar 5 tahun lalu, yang gua rasakan saat kisah ini hadir tanpa diminta ditayangin dipikiran gua adalah kekecewaan yang berujung rasa sakit. Saat itu juga gua berusaha untuk tidak mengenangnya lagi. Tapi ternyata yang gua lakuin itu salah besar, semakin lo menghindari suatu hal, semakin hal tersebut akan mendekati lo. Seperti itulah kira-kira hubungan gua dengan masa lalu itu.
Namun, rasa sakit dan kekecewaan yang dibawa oleh masa lalu itu semakin kesini semakin hilang, bahkan saat ini menjadi sesuatu yang layak untuk gua ingat. Ada kebahagiaan dimasa itu, yang mungkin tak akan bisa digantikan oleh kebahagiaan-kebahagiaan dimasa sekarang.
Kadang gua berpikir, seandainya semua masa-masa yang pernah gua alami bisa gua rekam dalam bentuk video, sehingga gua tidak perlu lagi mengingat semuanya, hanya tinggal memutar videonya, dan segala detail-detail kejadiannya bisa gua tonton dengan jelas. Karena masa lalu memang harus ada disetiap diri manusia, dan tanpa diminta, mereka akan kembali ditayangkan dipikiran kita. Maka dari itu pesan gua, bahagialah kalian yang memiliki banyak kisah dimasa lalu, karena kisah-kisah itulah yang nantinya akan mengiringi hidup lo. Mengiringi tentunya dari belakang.

Minggu, 13 April 2014

Mencari Kesegaran

Semua orang pasti pernah ngalamin kebosanan dalam menjalani sebuah hubungan. Tapi ngga tau harus ngelakuin apa dan ngomong apa.
Menurut gue, ngerasa bosan itu hal yang manusiawi. Ngerasa bosan ke pasangan juga ngga ngelanggar hak asasi doi sebagai manusia. Karena dengan ngerasa bosan lo bisa nentuin pasangan lo yang sekarang itu tulang rusuk lo yang bener-bener hilang atau cuma tulang rusuk orang lain yang udah jelas-jelas ngga muat di tubuh lo dan lo paksa-paksain biar bisa muat.
Secara ilmu apapun, kalo sudah ngerasa bosan, otomatis kadar kecocokan berkurang, tingkat keromantisan pun cenderung memudar. Simple nya, buat apa lagi hubungan yang kaya gitu dipertahanin?
Tapi, mutusin buat memutuskan hubungan itu ngga se simple chord gitar lagunya kuburan yang Cuma “b a minor c minor ke d ke c” lagi, apalagi hubungan yang sudah lo berdua dayung selama hampir sama dengan reputasi bang toyib ninggalin anak bininya. Momen yang kaya gini memang momen yang menurut gue ga dipinginin semua pasangan.
Keadaan akan makin rumit kalo pasangan lo keliatannya lagi sayang-sayangnya, dan doi terus-terusan ngewanti-ngewanti supaya lo ga bosan sama hubungan lo. Gua yakin, Cuma Hittler yang tega mutusin hubungan yang kondisinya lagi kaya gini dengan alasan sudah dilanda kebosanan.
Dan yang gua lakuin selama ini, gua meng-iya-kan semua wanti-wanti cewe gua tadi, dan berusaha sekuat tenaga kuda liar buat ngeyakanin doi kalo gua ga akan pernah bosan. Ya tentu aja sembari berharap ada sesuatu hal yang bisa ngembaliin mood gua kaya dulu lagi akan hubungan kami ini. Memang metode kaya gini bisa dibilang nyiksa diri sendiri. Tapi sumpah bro, gua lebih milih ngasih makan kucing tetangga daripada harus ngomong yang sebenarnya ke doi.
Bosannya gua ini bukan tanpa alasan, bukan karena gua bosan sama cassingnya doi atau apa lah yang berhubungan dengan jasmani, tapi alasannya mungkin lebih ke rohaninya. Gua ngerasa jenuh sama sikap doi yang menurut gue menjurus ke dalam zona sifat cabe-cabean. Dari sifat mengekangnya, ngekang disini doi lakuin secara gerilya, studi kasusnya gini:
Gua minta ijin buat ngumpul sama temen seperjuangan dulu waktu SMA, atau gua ijin ada kegiatan kampus diluar jam kuliah. Doi sih ngijinin, tapi gerak-geriknya di sms/bbm mengisyaratkan kalo dia ga seneng gua ngumpul-ngumpul atau berkegiatan di kampus, karena dipikiran doi, kalo gua ngelakuin hal diluar rumah tanpa adanya dia dibelakang jok motor gua, hal tersebut adalah hal yang tidak ada manfaatnya dan berpotensi mengeluarkan sifat “nakal” gua.
Satu pertanyaan gue, apa seperti itu yang dilakuin Ainun kepada Habibie saat si Habibie minta ijin ke luar buat meeting dengan pemilik PT.Pesawat Terbang?
Prinsip gue, gue ga mau ngekang/posesif sama dia, karena gua juga ga mau dikekang/diposesifin.
Balik lagi kepersoalan bosan.
“Jika lo ngerasa bosan, cobalah ingat bagaimana manisnya saat kencan pertama kali lo sama dDa” Seperti itu kata-kata pujangga yang sering diposting oleh warga-warga sosialita diberbagai media social. Dan gue sudah mencoba hal yang kaya gitu, jatuhnya ya sama-sama aja, rasa gue ke dia ga bisa balik sama persis kaya waktu kencan pertama gue dulu.
Saat gue nulis ini mungkin gue belum bisa ngambil keputusan, dengan alasan hati gue ga punya kumis secuil kaya Hittler. Gue masih ga tega ngebayangin gimana si doi kalo gua jujur dan ngambil satu keputusan yang gue pun ga tau gue pengen hal itu atau ngga.