Langit biru, diselimuti awan-awan putih yang lembut. Lembut bukan berarti lemah, sekali-kali ada awan yang mampu membuat aku dan seluruh penumpang di pesawat Garuda ini terguncang kecil. Meski begitu, tetap saja mataku tak bisa lepas memandangi keindahan ciptaan Tuhan ini dari kaca jendela pesawat.
Lamunanku terhenti ketika mendengar suara pramugari yang memerintahkan dengan lembut agar semua penumpang mengencangkan sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.
Tak terasa sudah kurang lebih 1 jam ku dipesawat ini. Sebentar lagi aku akan pulang, pulang ke kota ku. Di jendela pesawat sudah terlihat suasana jalan raya di sekitar bandara Syamsudin Noor. Ini berarti tak lama lagi aku akan mendarat.
Tak lama setelah itu, kurasakan getaran kecil. Sepertinya pesawat Garuda yang kunaiki sudah mendarat. Sekitar 15 menit setelah itu, para penumpang pun bergegas keluar pesawat. Begitu juga aku, dengan sedikit berdesakan, akhirnya ku keluar dari pesawat.
Setibanya di luar pesawat, hati ku berdebar, melihat langit kotaku yang telah ku tinggalkan kurang lebih 5 tahun untuk menuntut ilmu di kota orang. Tak sabar lagi rasanya ingin pulang ke rumah, bertatap muka dengan kedua orang tua dan adik perempuanku. Aku sengaja tidak mengabari mereka kalau hari ini aku pulang. Niatnya ingin bikin surprise kepada mereka.
xxx
Aku bergegas masuk ke bandara Syamsudin Noor, menuju tempat pengambilan bagasi untuk mengambil barang-barangku. Satu persatu tas dan koper lewat didepanku. Namun tak satupun ku lihat koperku disana. Aku mulai kesal menunggu.
Ditengah kekesalan karena koperku tak kunjung keluar dari bagasi, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku berpaling untuk melihat, dan..
”Dika ?” wanita itu menatapku tajam.
Aku diam sejenak. Ini cukup mengejutkanku. Bisa bertemu dengannya disini.
”Ya” jawabku singkat.
”Masih ingat aku kan Ka ?”
”Ya, masih lah, mana mungkin aku lupa sama kamu. Ngapain kamu disini Win ?” tanyaku sedikit basa-basi
”Tadinya aku mau jemput Lucky, tapi pesawatnya pending, katanya jam 11 nanti baru datang.”
”Oh.”jawabku singkat.
Lucky adalah kakak Wiwin. Aku kenal baik dengannya, disamping karena umur kami yang hanya terpaut 2 tahun, aku dan Lucky mempunyai hobi yang sama, yaitu photographer.
Setelah lumayan lama menunggu, koper ku akhirnya keluar.
“Terus gimana kamu sekarang, mau nunggu disini sampai Lucky datang ? Ini baru jam 9 lo win.”
”Mau kemana lagi. Pulang juga tanggung, cape bolak-balik.”
“Oh.” Jawabku.
“Oh Oh terus dari tadi” serunya dengan nada sinis.
Aku Cuma tersenyum, sambil melihat sorot matanya. Sorot mata yang tajam, yang penuh kenangan.
”Kamu mau nemenin aku nunggu Lucky disini ?” serunya.
”Gimana ya ?”
”Ayolah Ka, masa kamu tega ninggalin mantan kamu ini disini sendirian.” ujarnya dengan nada memelas.
Aku terdiam sejenak mendengar kata-katanya tadi. Degup jantungku menjadi lebih cepat.
Wiwin adalah mantan kekasihku semasa sekolah dulu. Semenjak kami putus saat aku kelas 1 SMA, hubungan aku dan Wiwin tidak begitu baik. Walaupun sering bertemu, kami tidak pernah saling menyapa.
”Ko diam, kalau kamu ga mau ya udah.” serunya membuyarkan lamunanku.
”Ngga, aku mau ko. Ya sudah, kita cari tempat duduk yu, ngga enak ngobrol sanbil berdiri kaya gini.” ujarku mengajaknya.
Kami pun berjalan menuju ruang tunggu. Mencari tempat duduk yang kosong. Sekilas terlihat tempat ini sangat sesak. Maklum, seperti inilah bandara di kotaku. Ku lihat ada 2 bangku kosong di pojok, aku pun mengajak Wiwin untuk duduk disana.
Setelah mendapatkan tempat duduk, kami diam, tidak berbicara apa-apa. Entah kenapa aku gugup. Duduk bersebelahan dengan seseorang yang dulu pernah mengisi hari-hariku. Tak tau rasanya mau bicara apa.
”Sudah kelar Ka kuliahnya ?” Wiwin memulai pembicaraan.
”Iya, aku sarjana sekarang.” sahutku dengan sedikit tawa kecil.
”Bagus lah kalau begitu.” sahutnya singkat.
Tak ada perubahan dari diri Wiwin. Dari cara bicaranya hingga caranya menatapku. Semuanya masih sama seperti 5 tahun lalu. Saat terakhir kali ku melihatnya di perpisahan SMA.
”Kamu sekarang kuliah dimana Win ?”
”Di Unlam Ka, kedokteran.”
”Wah, calon dokter ya.” gurauku
“Hee, Amien.” sahutnya sambil tertawa kecil.
Jujur, aku masih canggung berhadapan dengannya, apalagi ngobrol seperti ini. Maklum, sudah lama kami tidak saling menyapa seperti ini.
”Kamu gak ngabarin aku kalau mau kuliah di Malang.” Wiwin memulai lagi pembicaraannya. Aku terkejut mendengar dia berkata seperti itu. Tapi ku mencoba untuk tetap bersikap seperti biasa.
”Buat apa aku bilang sama kamu ?” tanyaku dengan sedikit cuek.
”Ya ga buat apa-apa sih. Tapi kan, paling tidak kamu kabarin aku.” katanya sambil menundukkan wajahnya.
Aku diam. Ku tatap wajahnya yang terlihat murung. Ingin rasanya aku memeluknya. Tapi apa alasan ku memeluknya. Aku bukan siapa-siapanya, hanya mantan.
”Sebenarnya aku mau bilang sama kamu waktu perpisahan, tapi...” aku menghentikan kalimatku.
”Tapi apa Ka ?’
”Tapi gak ada kesempatan.”
”Hah, maksudnya ?” tanyanya penasaran.
”Ya gak ada kesempatan. Waktu perpisahan itu kan kemana-kemana kamu berdua sama Aldi, pacarmu. Masa aku gangguin orang yang lagi pacaran. Lagi pula, aku pikir ga penting juga buat kamu aku mau kuliah kemana.”
Dia diam sambil menatapku. Aku pun menatapnya. Terlihat matanya berkaca-kaca.
”Ya penting lah.” sahutnya sambil memalingkan wajah dari pandanganku.
Ku lihat dia menyapu matanya. Entah apa yang disapunya, mungkin air mata. Tapi air mata untuk apa.
Aku lihat dia masih memalingkan wajah dariku. Tak tau apa yang ku pikirkan pada saat itu, dengan refleks aku genggam tangannya. Dia pun menatapku, dan berkata.
”Maafin aku Ka.”
”Maaf buat apa win ?” aku bertanya sambil tetap menatap wajahnya.
”Maaf karena aku pernah nyakitin kamu. Mutusin hubungan kita tanpa alasan yang jelas.”
Ku lepas genggaman tanganku. Kali ini aku yang memalingkan wajah darinya. Karena jika ku terus menatapnya, mungkin akan ada air mata, dan aku tak mau dia melihat air mataku.
Aku memang pernah tersakiti olehnya. Tapi entah kenapa, aku tak pernah bisa membencinya. Dulu, setiap kali ku melihatnya, ingin sekali rasanya menyapa. Tapi itu enggan ku lakukan.
”Terlambat Win.” ku mulai lagi pembicaraan.
”Jadi kamu gak bisa maafin aku Ka ?”
”Aku sudah lama maafin kamu, tapi..”
”Tapi kenapa ?”
”Tiga tahun Win. Tiga tahun aku memendam semua ini sendiri.”
Tiba-tiba Wiwin memelukku sambil menangis.
”Aku juga sakit Ka. Aku sakit harus ninggalin kamu. Tapi memang itu yang terbaik.”
“Ya, yang terbaik buat kamu. Dan aku bukan yang terbaik untuk kamu kan ?”
Wiwin melepaskan pelukannya. Dia meraih tasnya, dan mengambil sebuah kotak.
”Aku masih simpan ini Ka.” sambil menunjukkan kotak itu.
Aku kaget, ternyata dia masih menyimpan cincin itu. Sepasang cincin bermata separuh hati yang dibelinya untuk kami pakai.
Melihat cincin itu, kembali ku teringat akan indahnya masa lalu ku bersamanya. Begitu banyak hal indah, suka dan duka yang kami lewati berdua.
”Ini yang pernah kamu buang dulu Ka. Kamu buang karena marah sama aku.”
”Kenapa masih kamu simpan ? Ku kira sudah kamu buang.”
”Karena aku gak bisa ngelupain kamu.”
”Heh. Ngibur aku ya.”
”Aku serius Ka.”
Aku diam. Otakku masih tak bisa menerima semua ini. Dia yang dulu meninggalkanku. Dia yang ku pikir sudah melupakanku dari hidupnya, ternyata sekarang dia berkata seperti itu.
”Kamu tau kan Win, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Tapi kamunya seperti itu.”
”Sudah ku bilang kan Ka, aku gak ada niat untuk ninggalin kamu, keadaan yang mengharuskan seperti itu.” dia menatapku. ”Asal kamu tau Ka, aku juga sayang sama kamu, bahkan sampai sekarang.”
Aku tak bisa berbicara apa-apa lagi. Hanya diam dan menatap wajahnya. Damai rasanya, dapat menatap dengan leluasa wajah seorang yang di sayang.
Melihat aku yang hanya diam, dia meraih tanganku, membuka kotak itu dan mengambil satu cincin. Cincin yang dulu pernah melingkar di jariku.
”Ku mohon kamu pakai ini lagi Ka.”
Aku mengambil cincinnya, dan melingkarkannya di jari manis tangan kiriku.
”Kamu juga pakai ya.” sahutku
Wiwin tersenyum dan memakai cincin yang satunya. Lalu memelukku erat sambil berkata.
”Aku sudah lama putus sama Aldy, aku cuma sayang kamu Ka. Aku pengen sama kamu lagi.”
Mendengar hal itu, aku kaget, ku tak menyangka dia putus dengan Aldy. Karena dulu ku sempat mendengar kabar bahwa Wiwin dan Aldy sudah bertunangan. Tapi kenapa sekarang mereka putus.
xxx
Tak terasa sudah 2 jam kami ngobrol. Membicarakan masa lalu. Hal ini membuat ku lupa akan tujuan ku semula, ingin cepat-cepat pulang kerumah dan bertemu keluarga.
Sekarang sudah jam 11, pesawat Lucky akhirnya datang. Wiwin pun beranjak dari tempat duduk.
”Tunggu sebentar ya Ka, aku mau lihat Lucky dulu disana” katanya sambil meninggalkanku.
Aku hanya mengangguk sambil melihatnya pergi menjauhi ku.
Meski Wiwin menyuruhku untuk menunggu disini, tapi tidak kuturuti. Tanpa dia sadari aku pergi meninggalkannya, keluar bandara dan pulang kerumah. Mungkin dia marah karena ku pulang tanpa pamit, tapi mungkin juga tidak.
Sepanjang perjalanan, ku terus memikirkan kata-katanya tadi. Apa benar dia mau kembali bersamaku.
Meski sampai saat ini ku masih belum tau apa alasannya meninggalkanku dulu. Tapi aku bahagia, karena kini ku tau, dia juga masih menyayangiku. Tapi untuk bersamanya lagi, mungkin masih perlu ku pikirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar