Kamis, 26 Juli 2012

Ramadhan Kali Ini

Sedikit mengutip kata-katanya Raditya Dika, yang kata dia sih bulan puasa adalah waktu yang tepat buat lebih produktif. Kalo dipikir-pikir ada benarnya juga, coba deh lo pikirin, selama puasa apa aja yang bisa lo lakuin selain tidur dan malas-malasan ? Ya walaupun ada sebagian kecil sih mahasiswa yang kalo lagi puasa ga hanya tidur tapi juga sholat sunat, tadarusan, denger ceramah dan hal-hal berbau religi lainnya. Tapi ya mahasiswa kaya gitu limited edition, mungkin hanya yang dulunya dapet lailatul qadar yang bias kaya gitu.
Sebenarnya gua pingin banget ngerubah kata-katanya si Radit itu jadi sebuah realita dalam hidup gua di bulan puasa ini, tapi sampai hari ke 6 puasa hal itu masih jadi mitos disebabkan karena gua kurang konsisten. Contoh, awalnya gua bangun sahur jam 2, karena masih lama nunggu makan gua tahajud terus ngaji (pasti pada ga percaya, tapi ini serius !). Ya mungkin bisa lo tebak, hal kaya gitu hanya bertahan satu subuh, dan sahur berikutnya gua bangun selalu on time, tepat jam 4, bangun-gosok gigi-otw meja makan-lalu makan, habis itu lanjut beribadah lagi alias tidur.
Tapi gua masih mendingan dibanding sohib gua diseberang sana, semalam suntuk dia ga tidur, dan baru tidur jam 10 pagi, bisa dikira-kira bangunnya jam berapa ? Ya tepat sekali, 10 menit sebelum adzan magrib (sungguh berkah puasa anak ini..hina benar hina). Cukup ngomongin sohib gua itu, entar malah dia yang banyak pahala karena gua omongin terus.
Jadwal bangun gua sih masih bisa dibilang lumayan pagi, berkisar antara acara gossip baru mulai tayang sampai pertengahan acara musik dahsyat di rcti. Gua punya rencana besar sebenarnya di bulan puasa ini, mau ngangkat knalpotnya momo motor kesayangan gua supaya keliatan lebih garang aja sih kalo dijalan. Tapi sampai detik ini hal tersebut belum bisa gua realiasaikan, kasian si momo, mudahan kada kepuhunan.
Yang paling bikin gua nyesek dan ga semangat ngejalanin hari demi hari, bb yang begitu gua cintai, RUSAK, ada gangguan sama fleksibelnya, sudah 4 hari dia nginap ditempat orang yang ga dikenal. Iman gua benar-benar diuji bulan puasa kali ini. Dan gua punya nazar mulia kalo bb gua sembuh, gua akan ganti anti goresnya dan akan gua pasangin kondom (bukan yang merknya fiesta atau kamasutra).

Jumat, 20 Juli 2012

Kepada Kamu

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…